Sabtu, 13 April 2019

Sepi dalam dekapan arak

Terbuang dari meja makan, ini bukan tentang kucing yang mencuri lauk pauk, ini kisah piring  dipecahkan dari keharmonisan, memaksa diam dalam kelam merajut rindu dari tandus bunga kamojang, senyap dari ramai riuh dalam sepi,  gelombang rumah hanya dijadikan pijakan angin menusuk ruang tamu berburu rindu yang mati di hantam sunyi

Ini cerita ku
Sebotol arak tersimpan di lemari memapas jiwa yang di kebiri
Berburu kasih hanya fana yang belum terobati
Tak ada yang memadu seperti kapal yang kehilangan jati diri

Aroma arak membuat mati dalam bisikan setan bahwa raga telah hitam terbuang dari kumpulan orang orang suci

Memapas kembali sembari meneguk arak yang telah lama kupandangi
Bahwa jiwa harus terkapar dalam riuh nya kota yang penuh kesombongan ini

Kusimpan air hitam dalam meja memeluk asap menikmati sepi mencari jati diri
Bahwa ruang tamu kini hanya jadi
Sunyi yang tak pernah dikunjungi

Mataku mulai vertikal melihat camar jadi samar
Kurebahkan badan di kamar yang penuh lukisan
Membayang rumah yang kini mati terhantam oleh karya potoku sendiri

Badanku kurus membungkuk terbesit alunan sakaw
Setan dan malaikat berebut jiwaku yang terkapar dalam sepi
Tak ada lagi yang peduli dengan sosok dramaturgi
Semuanya berdalih bahwa hidup memang seperti ini

Ah persetan dengan sebotol arak
Kau hanya bisu disaatku terkapar
Melirih rindu yang mati oleh air hitam

Silahkan caci silahkan benci silahkan kebiri
Aku hanya sepi bukan alergi pada diri sendiri
Kau berhak memuja ramai dan mencaci sepi
Kau berhak memukul jiwaku tapi tidak dengan lukisan dan potoku



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Surat untuk marsinar #2

Marsinar, perjalanku kini sudah terlalu jauh, aku melihat begitu banyak penderitaan di desa-desa, ada ibu imas yang setiap hari menanam ke...