Sampai kapan menghujat gelap dengan keraguan, menghitam dengan seiringnya gelombang sungai menjadi api lalu kebodohan apa lagi yang tertanam pada kepala ini, setiap hari, setiap waktu dan setiap detik ku habiskan kopi dengan palung palung rusaknya dunia, sedangkan ibuku di rumah merindukan meja makan yang dipenuhi santapan liar dari anaknya, aku jarang pulang hingga revolusi ini tak ada artinya, membiarkan ibuku sendiri menatap langit tanpa hadirnya bias binar dari para jagoan.
Aku malu pada benih tulang belulang revolusi
Palung demi palung terkontaminasi komoditas cakrawala
Terlalu jauh pola pikir ini berkelana
Hingga jiwaku ambigu dengan rumah sendiri
Sisi demi sisi saling menghatam hidup yang di penuhi serangkaian konotasi yang lupa berdoa
Ibu, aku pulang dengan serupa juang dan sedih
Demi tuhan aku mencintaimu dengan revolusi nadi bangsa ini
Ibu, malam ini aku duduk di sungai sendiri
Memandang kupu kupu yang tetap melawan asap pabrik
Kulihat bangunan yang megah berdiri di tanah para petani yang kehilangan cangkulnya
Serupa pulang dan sayur bayam
Aku rindu senyuman ibu di kala bapa membawa asa dan harap selepas kerja.
Ibu, aku ingin pulang memeluk badanmu agar kasih ini benar benar hidup di dalam raga hitam yang terdogma bias binar nya mentari
Aku benar benar rindu, rumah itu
Aku benar benar cinta, meja itu
Aku benar benar peduli, kamar itu
Aku benar benar butuh ibu
Pada akhirnya, kehidupan ini akan benar benar redup, aku kehilangan arah menerkam segala murka
Dunia ini kelam
Benar benar kelam
Ibu, aku mencintaimu
Seperti bapa yang menamkan akar kasih pada tubuhku
Dan aku benar benar tumbuh menjadi lanang yang kuat dan berani
Serupa juang dan sedih aku masih mencintai rumah itu
Serupa kisah dan kasih aku masih butuh pelukan ibu
Serupa waktu dan tempat
Jangan katakan
Sudah tak ada lagi pulang bagiku.
Aditya permana
Jakarta , 25 september 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar