Puan : tuan apa kabar? , apa kabar dengan jiwamu yang di koyak koyak tangisan kemanusiaan ?
Tuan : kabarku baik puan, aku masih berdiri untuk merawat kemanusiaan dan keadilaan, meski jiwa ini selalu di hantam senjata senjata yang membunuh cinta dalam kemanusiaan
Puan: jangan takut tuan , aku masih ada untuk menemani ragamu yang menantang dibawah payung hitam, aku masih ada untuk kamu dan kemanusiaan.
Tuan : kupikir kau sama dengan wanita lainnya yang lebih memilih berjuang untuk gincu dan menyebarkan sebuah kemewahan untuk popularitas dirinya sendiri
Puan : tidak tuan , aku bukan mereka , aku adalah aku, aku adalah wanita yang ingin meneruskan perjuangan kartini dan marsinah, sudah tuan hentikan semua pandanganmu itu, aku tidak seperti itu, aku sama sepertimu, masih ada pada jalur kesadaran dan kebenaran.
Tuan : puan aku tidak ingin membawamu ke jalur seperti ini, aku tidak ingin kamu hilang dan mati, maafkan aku puan, aku tidak bisa seperti sapardi dan habibie,maafkan puan , aku adalah aditya yang mencoba mencintaimu dalm kemanusiaan, aku ingin kita keluar dalam sepi untuk menyuarkan catatan kebanaran munir wiji.
Puan : kua pikir aku tidak bisa sepertimu , kau pikir aku tidak berjuang dalam sepi ,kau pikir aku tidak berjuang untuk kebenaran, aku katakan sekali lagi , aku sedang berjuang menyuarakan kebenaran meski nyawaku harus hilang, bukannya cinta itu mengajarkan ketulusan,bukannya cinta itu merawat kebahagian, tuan! jika jalanku dan jalanmu dipisahkan kematian, aku siaap . aku siap ,aku siap bertemu denganmu dilubang keabadian.
Tuan : puan aku tidak ingin melihatmu mati di
tembak peluru serdadu kebusukan
Puan : hah, kau pikir aku tidak berpikir seperti itu,aku pun sama tuan, aku tidak ingin melihatmu mati seperti munir yang di racun diudara, aku tidak ingin melihatmu seperti pramoedya yang diasingkan oleh bangsanya sendiri, dan aku tidak ingin melihatmu seperti wartawan udin yang mati karena menyuarakan kebenaran.
Tuan : puan dengarlah ,dengarlah aku lebih mati untuk kemanusiaan, aku lebih baik hilang untuk merawat kebenaran, di bawah payung hitam ini aku sedang berjuang untuk merawat keadilan, dan aku masih mencintaimu seperti halnya aku mencintai payung ini.
Puan : tuan aku ingin mengatakan sekali lagi, aku pun sama, aku mencintaimu seperti halnya marsinah yang berjuang untuk keadilan,biarkan aku untuk selalu ada di sampingmu, biarkan aku ikut berjuang untuk merawat kalimat yang selalu kau lontarkan yaitu “hidup untuk menghidupkan”.
Tuan : baiklah puan, jika itu pilihanmu aku ijinkan kau hadir dalam darah juang ini, puan kita akan menjadi sepasang kekasih yang melibatkan intuisi ini untuk keluar dari zona nyaman.
Puan : aku sudah mengerti tuan.
Tuan :baguslah jika kau mengerti tentang cinta dan kemanusiaan
Puan : aku ada akan disampingmu tuan
Tuan : aku mencintaimu, biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri
Puan : aku pun sama , aku mencintaimu dalam bayang bayang kematian.
Tuan: tidak usah takut puan, kita akan mati bersama, kita akan sepi bersama dan kita akan gelap bersama.
Puan : tuan aku mencintaimu dengan kemanusiaan
Tuan : mari kita berjuang untuk menghilangkan kemiskinan dan perbudakan, apa kamu siap ?
Puan : aku siap mati hari ini, mari kita lakukan tuan !!
Tuan : iya mari kita lakukan , aku mencintaimu dalam perjuangan yang di bayang bayang kematiaan.
Dalam cinta kita berdua , kita akan ada dalam romansa kemanusiaan yang menyuarakan cinta, kasih, perjuangan dan kematian, kita akan hidup dalam ruangan kegelapan yang menyuarakan kebeneran hingga benar benar menusuk langit yang dipenuhi kesombongan, puan terimakasih untuk raga marsinah dan kartini yang tertanam pada dirimu sejak dini, aku akan ada untukmu, aku akan ada untuk marjinal, aku akan ada untuk minoritas, dan kita akan ada di dalam cerita kemanusiaan dan romantica, aku lelaki jalang yang siap mati untukmu dan kemanusiaan.
panjang umur perjuangan
panjang umur romansa yang kita ikatkan
aku akan mencintaimu dalam perjuangan payung hitam
karya :Aditya permana
judul : Kemanusiaan dan romantica

Tidak ada komentar:
Posting Komentar